5 Cara Menjaga Kesehatan Mental Saat Pandemi

Health & Wellness | 2/5/2021 | 5 Min

Bukan cuma fisik, kesehatan mental saat pandemi Covid-19 juga penting dijaga. Tidak sedikit orang yang mengalami burnout karena terlalu lelah saat bekerja dari rumah. Akibatnya, mereka gampang marah dan sering cemas berlebihan. Dampaknya pun bisa sampai ke anggota keluarga.

Seperti dikutip situs Covid19.go.id, Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia menyebut tiga masalah psikologi yang ditemui selama pandemi Covid-19. Ketiganya adalah kondisi cemas berlebihan, depresi, dan trauma psikologis. Bahkan 66 persen pengakses layanan swaperiksa masalah psikologi milik PDSKJI mengaku mengalami depresi selama pandemi. Lantas bagaimana caranya agar tidak depresi? Berikut ini lima tips menjaga kesehatan mental saat pandemi.

Mengurangi Terpapar Berita Soal Covid-19

Perwakilan Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia dr. Lahargo Kembaren, Sp.KJ mengatakan tips pertama yang dapat dilakukan untuk memelihara kesehatan mental adalah mengurangi paparan informasi yang berlebihan soal Covid-19 yang belum diketahui kebenarannya. Sebab, informasi tersebut bisa memicu kecemasan. Apalagi banyak hoaks beredar. Data Kementerian Komunikasi dan Informatika seperti dikutip Kompas.com menyebut 2.000 hoaks soal Covid-19 hingga awal Oktober 2020.

Bahkan Badan Kesehatan Dunia atau WHO dalam artikel terkait kesehatan mental dan psikososial pada masa pandemi menyarankan masyarakat hanya mencari informasi dari sumber-sumber berita tepercaya. Dari sumber-sumber tepercaya tersebut, Anda bisa membuat perencanaan tentang apa yang akan dilakukan dan bagaimana melindungi diri Anda dan keluarga.

WHO juga menyarankan masyarakat membatasi waktu pencarian informasi terbaru soal Covid-19. Sehari dianjurkan hanya satu atau dua kali mencari berita termutakhir soal Covid-19. Batasi pula memutakhirkan berita tersebut selama 5-10 menit. Keseringan mengupdate berita soal Covid-19 bisa membuat orang cemas.

Mengelola Media Sosial Secara Positif

Pembatasan sosial berskala besar membuat aktivitas sosial bersama kawan bakal berkurang. Anda pun lebih sering di rumah, entah bersama keluarga ataupun sendiri. Akibatnya, media sosial jadi ruang pelarian selama pandemi. Namun, media sosial punya sisi negatif dan positif. Sisi negatifnya, banyak hoaks yang berseliweran di media sosial. Contohnya, hoaks soal konspirasi Covid-19 yang menganggap Covid-19 tidak ada.

Jika Anda mengikuti seseorang yang sering mengunggah berita-berita tak akurat di Facebook, cobalah fitur menyembunyikan unggahannya. Langkah ini dilakukan agar Anda tidak terpapar unggahan-unggahan terbarunya. Begitu juga di Twitter. Anda bisa berhenti mengikuti akun-akun yang biasa menyebar berita-berita tak akurat.

Di samping sisi negatif, adapula sisi positif yang bisa dimanfaatkan dari media sosial. Contohnya, Anda bisa mencari video-video menghibur di Instagram maupun Facebook. Anda juga bisa mengikuti diskusi-diskusi menarik secara langsung di Instagram untuk membunuh waktu. Atau Anda bisa mengikuti tantangan di Tiktok dengan merekam video dan mengungahnya.

Menjaga Interaksi Sosial dengan Keluarga dan Teman

Menjaga interaksi sosial dengan keluarga maupun teman bisa menjaga kewarasan. Berbagi cerita dengan keluarga maupun teman bisa mengurangi ketegangan yang menghinggap saat pandemi. Anda bisa memanfaatkan teknologi seperti Zoom, Google Hangout, atau video WhatsApp call untuk berinteraksi dengan kerabat tanpa meningkatkan resiko terpapar Covid-19.

Bahkan teknologi bisa Anda manfaatkan untuk mengajak keluarga dan teman beraktivitas. Misalnya Anda bersama keluarga dan kerabat melakukan tur virtual mengunjungi museum, taman nasional dan situs lain melalui Google Arts& Culture. Anda juga bisa nontong bareng konser virtual secara langsung atau bermain online game bareng teman. Netflix Party atau nonton bareng di rumah masing-masing juga bisa jadi salah satu pilihan lain untuk menjaga interaksi sosial dengan keluarga maupun teman.

Selain menjaga keluarga dengan perlindungan kesehatan seperti asuransi Cigna Family Care, Anda sebaiknya menjaga kesehatan jiwa anak ataupun orangtua di lingkup keluarga. Sebab, kelompok umur ini rentan mengalami masalah psikologi. Ciptakan suasana aman dan ajak mereka beraktivitas bersama.

Menyibukkan Diri dengan Kegiatan Positif

Menyibukkan diri dengan kegiatan positif bisa mengalihkan perhatian dari pandemi Covid-19. Anda bisa mencoba hobi baru seperti membuat kue, berkebun, bersepeda, atau bermain musik. Kegiatan-kegiatan tersebut bisa membuat Anda rileks dan lepas dari tekanan. Kegiatan fisik bisa mengurangi kecemasan dan memicu suasana hati yang menyenangkan dengan melepaskan hormon endorphin. Menurut studi yang dirilis Journal of Happiness Studies pada 2018, seperti dikutip Forbes, berolahraga sedikitnya 10 menit bisa membuat hati bahagia.

Atau jika enggan melakukan aktivitas yang berat, Anda bisa menonton film-film favorit di rumah, membaca buku-buku yang ada di perpustakaan rumah Anda, atau leyeh-leyeh sambil mendengarkan musik dari layanan streaming maupun koleksi piringan hitam Anda.

Bantu Sesama

Lembaga yang fokus pada kesehatan mental di Amerika Serikat, NAMI, menyatakan membantu sesama bukan hanya bermanfaat bagi yang dibantu, tetapi juga yang membantu. Dengan membantu sesama, Anda akan merasa memberikan kontribusi kepada lingkungan sekitar.

Anda bisa membantu orang-orang di lingkungan sekitar tempat tinggal yang memang membutuhkan. Jika punya uang berlebih, Anda bisa membantu bisnis teman ataupun tetangga dengan membeli produk mereka. Bekerja bahu membahu bisa mempererat solidaritas dalam menghadapi Covid-19.

Jika gejala stres dan kecemasan makin jadi dan mengganggu mental Anda, tidak ada salahnya berkonsultasi dengan ahli kesehatan mental yang berpengalaman sedini mungkin. Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia bisa Anda coba lewat layanan swaperiksa di situs www.pdskji.org.