Sorry, you need to enable JavaScript to visit this website.
Skip to main content

Berkat Tangan Prostetik, Sigit Kini Bisa Menulis Lagi

Posted by jktcgnadm

Jakarta - Raut bahagia terlihat jelas di wajah Sigit Wahyudi (25). Ia memperlihatkan tulisannya di atas secarik kertas. Kertas itu berisi arsiran huruf “a” yang biasa menjadi latihan menulis untuk anak TK. Hari itu, Sigit belajar menulis dengan tangan palsunya. Sigit menjadi salah satu dari 37 penyandang disabilitas di Yogyakarta dan sekitarnya yang menerima tangan prostetik LN-4 dari perusahaan asuransi Cigna Indonesia, Minggu (30/9) siang.

Lima tahun lalu, Sigit harus kehilangan kedua tangannya karena tersengat listrik saat tengah bekerja di proyek bangunan. Kedua tangannya diamputasi. Sejak itu, ia kesulitan beraktivitas.

“Kini saya bisa menulis lagi, tangan ini akan sangat membantu aktivitas sehari-hari saya,” ujar Sigit.

Tangan prostetik LN-4 atau tangan palsu fungsional itu adalah sebuah perangkat tangan bantu yang dipasang di bawah siku tangan. Perangkat itu sederhana, terjangkau, dan tahan lama. Tangan palsu itu tahan terhadap air, panas, kotoran, dan garam, serta mudah dibersihkan hanya dengan air bersih. Fungsinya sebagai “tangan bantu”. Dengan LN-4, para penyandang disabilitas yang tidak memiliki tangan, bisa menggunakannya untuk memegang sikat gigi, menggenggam cangkir, memegang alat tulis, alat lukis, dan aktivitas lainnya.

“Tangan ini juga kuat. Jika dipasang dengan benar, tangan ini bisa digunakan untuk mengangkat beban hingga 12 kilogram,” ujar Presiden Direktur Cigna Indonesia Herlin Susanto melalui keterangan tertulis kepada Beritasatu.com, Selasa (2/10).

Hari itu, Herlin memasangkan tangan palsu LN-4 ke lengan Sigit. Ia sendiri yang merakit tangan palsu itu bersama tiga rekannya dari Cigna saat pelatihan di Amerika Serikat.

Perusahaan asuransi jiwa Cigna Indonesia membagikan tangan prostetik LN-4 secara gratis kepada penyandang disabilitas secara serentak di tiga kota yakni di Tangerang, Lombok, dan Yogyakarta. Pada tahap pertama, sebanyak 66 tangan palsu diberikan langsung kepada kaum disabilitas yang kehilangan tangan.

“Kami mendapat alokasi 2.000 tangan prostetik dari kantor pusat kami di AS. Ini akan kami bagikan ke masyarakat yang membutuhkan. Setelah tiga daerah ini, kami akan lanjutkan ke kota-kota lain seperti Solo dan Bandung. Kami membuka diri untuk yayasan-yayasan lain untuk ikut bekerja sama,” ujar Herlin.

CSR Cigna

Menurut Herlin, misi Cigna adalah membantu orang-orang untuk meningkatkan kesehatan, kesejahteraan, dan rasa aman. “Inisiatif ini kami tujukan untuk membantu masyarakat Indonesia, sebagai komunitas yang kami layani, meningkatkan kesejahteraan mereka dengan membantu agar mereka lebih mampu melakukan kegiatan sehari-hari,” papar Herlin.

Pada pelatihan itu, Herlin menyerahkan 37 unit tangan prostetik LN-4 kepada penyandang disabilitas dari wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Para penyandang disabilitas itu datang berkat informasi yang disebarkan Yayasan Fofindis di Sidomulyo yang memang bergerak dalam pemberdayaan penyandang disabilitas. Para penyandang disabilitas itu, langsung berlatih menggunakan tangan prostetik LN-4 untuk berbagai aktivitas.

Para penyandang disabilitas mengaku bahagia bisa menerima tangan prostetik itu. Apalagi, tangan palsu LN-4 itu sangat fungsional. Berbeda dengan tangan palsu yang pernah mereka gunakan selama ini yang hanya berupa aksesori.

Sigit mengaku pernah mendapat tangan palsu dari sebuah lembaga sosial, namun tangan itu hanya aksesori. “Tidak fungsional,” ujar pemuda lajang yang sengaja datang jauh-jauh dari Kudus untuk menerima tangan prostetik dari Cigna.

Ia dan tiga rekannya dibawa relawan dari Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (Lazisnu) dari Kudus ke Yogyakarta menggunakan mobil ambulans NU. Keempatnya merupakan sebagian kecil dari kaum disabilitas yang terdaftar untuk menerima tangan prostetik dari Cigna.

Sementara itu, Kasihan (42), penyandang disabilitas lain asal Magelang mengaku bahagia bisa mendapat tangan prostetik dari Cigna.

“Dengan tangan fungsional ini, setidaknya saya nanti bisa mengendarai sepeda motor atau mobil. Sehingga lebih mudah. Selama ini saya memang bisa mengendarai mobil, tetapi hanya menggunakan satu tangan. Tangan palsu yang saya terima sebelumnya dari pemerintah hanya aksesori, jadi tidak bisa dipakai untuk beraktivitas,” tutur Kasihan yang sehari-hari bekerja sebagai relawan di sebuah LSM sosial itu. Ia pernah menerima tangan palsu, tetapi hanya berupa aksesori, makanya tidak pernah ia gunakan lagi.

Sementara itu, Yusan Muarif (40), ayah dua anak asal Kaliurang mengaku senang bisa memperoleh tangan prostetik LN-4. Empat tahun lalu, dua tangan dan satu kakinya harus diamputasi setelah Yusan mengalami kecelakaan kerja di Jakarta. Yanti, istrinya mengisahkan, selama empat tahun, suaminya hanya berdiam diri di rumah tanpa aktivitas. “Mentalnya down, sebab tadinya normal, kini dia seperti itu,” ujar Yanti.

CSR Cigna

Sejak suaminya tidak bekerja lagi, Yanti menjadi tulang punggung keluarga. Ia berjualan ayam di pasar. Makanya, dengan adanya tangan prostetik, ia berharap suaminya bisa beraktivitas kembali serta semakin pecaya diri.

Hal itu diamini suaminya. “Saya ingin mandiri, setidaknya bisa membantu istri saya di rumah, seperti menyapu atau mengepel rumah,” tutur Yusan.

Ketua Yayasan Fofindis Andre Angling Asmoro mengatakan, pihaknya bersyukur diajak bekerja sama dengan Cigna Indonesia. “Kami melihat Cigna memiliki kepedulian yang tinggi bagi masyarakat yang berkebutuhan khusus. Makanya, saat kami melihat ada program pemberian tangan prostetik ini, kami membuka diri untuk ikut serta,” ujar Andre.

Ia berharap, program itu akan berlanjut. Tak hanya memberikan tangan palsu, tetapi program-program pemberdayaan kaum disabilitas lainnya. “Ternyata ada program-program kami yang selaras dengan Cigna, kami berharap itu bisa berjalan dengan berkelanjutan,” tambahnya.

 

Program Global

CSR Cigna


Herlin melanjutkan, program pemberian tangan palsu fungsional itu merupakan program global Cigna di AS. Tangan palsu itu tersedia berkat kolaborasi Cigna Indonesia dengan Cigna Global dan Ellen Meadows Prosthetic Hand Foundation, sebuah organisasi nirlaba yang telah mendistribusikan lebih dari 48.000 tangan prostetik LN-4 secara gratis sejak tahun 2005 di 84 negara.

Dikatakan, dalam proses seleksi dan distribusi tangan palsu itu di Indonesia, Cigna bekerja sama dengan Yayasan Visi Maha Karya di Tangerang, Yayasan Endri di Lombok, dan Yayasan Fofindis di Yogyakarta.

Pada kesempatan itu Herlin menyatakan akan melakukan pendekatan kepada Kementerian Sosial untuk mendukung program bantuan itu. Ia juga berharap adanya keringanan dari pihak Bea dan Cukai untuk mengimpor tangan palsu tersebut. Saat ini produk tangan palsu yang nilainya sekitar US$ 300 per unit itu masih masuk kategori barang impor yang lumayan besar nilai bea masuknya.

 

Foto dan artikel ini dilansir dari halaman Berita Satu