Sorry, you need to enable JavaScript to visit this website.
Skip to main content

Perkuat Lini Distribusi, Bisnis Keagenan Cigna Indonesia Melonjak

Posted by jktcgnadm

Jakarta - Kompetisi ketat industri asuransi memaksa semua perusahaan untuk menerapkan strategi jitu agar bisa bertahan. Bahkan bisa memenangkan persaingan. Hal itu jugalah yang diterapkan perusahaan asuransi jiwa PT Cigna Indonesia. Perusahaan layanan kesehatan global asal Amerika Serikat yang hadir di Indonesia sejak 1990 ini menerapkan sejumlah strategi untuk memenangkan pasar di Tanah Air.

Cigna Indonesia lama dikenal sebagai perusahaan asuransi yang kuat di kanal distribusi affinity marketing, atau distribusi melalui mitra institusi keuangan dan nonkeuangan. Boleh dibilang, Cigna merupakan pionir di jalur distribusi ini. Namun, perkembangan selanjutnya, mulai 2015, Cigna Indonesia menerapkan strategi baru yakni penjualan langsung ke konsumen. Kanal distribusi telemarketingmenjadi adalan baru. Bahkan, langsung menjadi kontributor utama Cigna. Tak beberapa lama kemudian, Cigna Indonesia mulai memperkuat kanal distribusi keagenan.

 

Foto: Chief Distribution Officer PT Asuransi Cigna Dini Maharani berbincang dengan tele marketing Cigna di Jakarta, Selasa (21/8). Tele marketing Cigna memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan pemegang polis asuransi Cigna. Tele marketing memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan sebesar 55 persen year to date, di mana angka ini jauh di atas kontribusi tele marketing pada 2014 yang hanya sebesar 3 persen. ( Foto: ist )

 

“Dulu telemarketing mayoritas, saat ini memberi kontribusi 55% dari total bisnis Cigna. Sisanya sekitar 21% dari agensi, 24% asuransi jiwa kredit kerja sama dengan multifinance dan perbankan,” tutur Chief Distribution Officer Cigna Indonesia Dini Maharani melalui keterangan tertulis, Senin (27/8).

Sebelumnya, keagenan hanya memberi kontribusi 3% dari total pendapatan premi perusahaan. Ternyata, tidak sampai tiga tahun, terjadi peningkatan signifikan. Bahkan, sepanjang 2017 lalu, dari kanal distribusi keagenan, Cigna Indonesia meraih total pendapatan premi Rp 111 miliar atau naik 72% dari tahun sebelumnya sebesar Rp 65 miliar.

“Ini bukti bahkan Cigna serius mengembangkan agency. Mulai 2017, Cigna Indonesia sudah mendapatkan award top agen untuk polis terbanyak. Agen kami sangat produktif. Di usia keagenan baru dua tahun, sudah menempati nomor tujuh. Tahun ini malah naik menjadi posisi keempat,” papar Dini.

Ia menambahkan, saat ini Cigna Indonesia diperkuat sekitar 950 orang agen. Jumlahnya naik cukup drastis dari tahun sebelumnya yang masih di angka 600 orang. Malah, pada Desember 2014 lampau, jumlah agen hanya 77 orang dan di 2015 sebanyak 168 orang. Dini meyakini, sampai akhir tahun jumlahnya akan terus bertambah.

“Tetapi kami tidak mengejar kuantitas, melainkan fokus pada kualitas agen. Jadi penambahannya tida menjadi yang utama, melainkan bagaimana agen kami memiliki kualitas yang sangat baik,” papar Dini.

Saat ini Cigna memiliki 8 kantor keagenan di 7 kota. Tahun depan, pihaknya akan melakukan ekspansi ke beberapa kota di Indonesia.

Sementara dari sisi kanal distribusi telemarketing, Cigna diperkuat tenaga pemasar telemarketing sebanyak 500 orang. Tak hanya keagenan, kanal distribusi telemarketing juga tumbuh yakni sebesar 13% dari tahun 2016. Dari keagenan dan telemarketing, Cigna Indonesia berhasil menghimpun sekitar 900.000 nasabah. Angka itu meningkat dari dua tahun sebelumnya yang sekitar 700.000 nasabah.

“Telemarketing masih terbesar sebagai kontributor Cigna. Cara kami memanage tim ini sangat khusus, meramu skema insentif, kontes, rekrutmen dan training,” tambahnya.

Dini menambahkan, dalam menghadirkan produk, Cigna tetap mengacu pada produk yang sederhana dan mudah dijangkau masyarakat. Varian produk sangat banyak, mulai dari kecelakaan, penyakit kritis, perawatan gigi, hingga sakit jiwa.

“Kami sediakan semua. Kami juga terus memperbaiki layanan sistem yang otomatis bisa mempermudah agen dan telemarketer sehingga makin produktif,” kata dia.

 

Digital


Dini menambahkan, pihaknya memperkuat layanan dengan menerapkan layanan digital. Para agen Cigna juga bisa menjual produk langsung dengan tablet. Polis elektronik juga bisa cepat diberikan kepada nasabah.

“Saat ini, banyak hal ke arah digitalisasi. Banyak agen muda yang dilibatkan, kaum milenial ini sudah paham betul gadget. Makanya, kami adaptasi kecenderungan ini. Sekarang penggunaannya sangat baik, produktivitas kami meningkat. Makanya peringkat kami naik dari tujuh ke peringkat empat,” tambah dia.

Tak hanya diperkuat perangkat elektronik, kata Dini, pihaknya juga memiliki customer value management unit. Dari sisitem ini, Cigna bisa melihat profil konsumen, sehingga bisa mengefektifkan kampanye Cigna. Unit itu sangat dalam untuk mengkaji dari sisi analisa apakah tenaga pemasar Cigna efektif atau tidak, juga calon nasabah yang dihubungi apakah sesuai dengan kebutuhannya atau tidak,” tambahnya.

Dini melanjutkan, kanal distribusi keagenan dan telemarketing ke depannya akan bersinergi. Sehingga, Cigna memiliki jalur distribusi multichannel. Hasilnya, keduanya memiliki kontribusi dengan porsi serupa. Hal itu tentu akan meningkatkan kontribusi Cigna Indonesia ke kantor pusat.

“Tantangan ke depan, secara bisnis selalu ada. Market selalu berinovasi dan berevolusi. Cigna juga demikian. Tantangan kami ke depan adalah bisa menghadapi market, kita akan terus berinovasi,” tuturnya.

Ia akui, menangani dua kanal berbeda tidaklah mudah. Konflik itu pasti ada. Tetapi ia yakin, di tiap permasalahan akan selalu ada solusinya. Solusi yang diterapkan adalah bagaimana tiap kanal hadir untuk mendengar keinginan konsumen.

“Membantu yang dilayani, bagaimana kita bisa memastikan nasabah terpenuhi kebutuhannya,” tambah dia.

Sebelumnya, Presiden Direktur Cigna Indonesia Herlin Sutanto mengatakan, pihaknya berkomitmen mewujudkan misi Cigna di Indonesia yakni membantu masyarakat meningkatkan kesehatan, kesejahteraan, dan kebahagiaan. Hal itu sejalan dengan komitmen Cigna Indonesia dalam mendukung program pemerintah untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan melalui OJK.

Ia menjelaskan, Cigna Indonesia didirikan pada 1990. Cigna Indonesia merupakan anak perusahaan Cigna Corporation, sebuah perusahaan layanan kesehatan global dari Amerika Serikat yang beroperasi secara internasional di 30 negara, dan melayani sekitar 95 juta nasabah di seluruh dunia.

Kini, kata Herlin, Cigna Indonesia telah tumbuh dan berkembang menjadi salah satu perusahaan asuransi terkemuka di Indonesia, menyediakan rangkaian produk dan layanan yang sesuai kebutuhan nasabah di setiap tahapan hidup mereka.

Dini menambahkan, dalam menghadirkan produk, Cigna tetap mengacu pada produk yang sederhana dan mudah dijangkau masyarakat. Varian produk sangat banyak, mulai dari kecelakaan, penyakit kritis, perawatan gigi, hingga sakit jiwa. “Kami sediakan semua. Kami juga terus memperbaiki layanan sistem yang otomatis bisa mempermudah agen dan telemarketer sehingga makin produktif,” kata dia.

Herlin menambahkan, Cigna Indonesia telah tumbuh dan berkembang menjadi salah satu perusahaan asuransi terkemuka di Indonesia, menyediakan rangkaian produk dan layanan yang sesuai kebutuhan nasabah di setiap tahapan hidup mereka. Pada akhir 2016, Cigna Indonesia membukukan pencapaian rasio tingkat solvabilitas, atau disebut RBC (Risk Based Capital) sebesar 637% jauh di atas peraturan pemerintah sebesar 120%.


 

Artikel ini dilansir dari halaman BeritaSatu.com