Sorry, you need to enable JavaScript to visit this website.
Skip to main content

Bersepeda, Menunjang Gaya Hidup Sehat atau Tren Semata?

Posted by setyo

Tren bersepeda berkembang menjadi salah satu aktivitas yang paling digandrungi di tengah era pandemi Covid-19. Tidak hanya orang dewasa, tidak jarang kita juga melihat anak-anak kerap melakukan aktivitas tersebut. Bahkan, ada yang rela menggelontorkan uang puluhan juta rupiah untuk membeli sepeda bermerk.

Pertanyaannya, apakah aktivitas bersepeda itu untuk menunjang kesehatan, atau hanya tren semata karena sedang "naik daun"? Sebenarnya, tren bersepeda muncul ketika aktivitas pembatasan sosial digaungkan pemerintah di tengah pandemi. Bersepeda dianggap sebagai salah satu cara aman bagi orang yang ingin berolahraga, sembari harus juga menerapkan social distancing.

 

Baca juga: Banyak Orang Tanpa Gejala, Bagaimana Melindungi Diri dari Virus Corona

 

Pada Juni 2020, Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) mencatat, penggunaan sepeda di Jakarta mencapai 10 kali lipat dari bulan sebelumnya. Bahkan, 12 produsen sepeda di Indonesia dikabarkan menaikkan kapasitas produksi hingga 30%, dan perusahaan tersebut batal merumahkan karyawannya karena lonjakan permintaan dari konsumen.

Demikian halnya yang terjadi di Prancis. Menurut BBC edisi 30 Maret 2020, pemerintah Prancis dikabarkan bersedia mensubsidi warganya dengan anggaran mencapai 330 miliar rupiah untuk menggunakan sepeda sebagai kendaraan sehari-hari untuk beraktivitas demi menjaga physical distancing.

 

Tren bersepeda dengan biaya puluhan juta rupiah

 

Di tengah maraknya tren bersepeda, beberapa waktu lalu sempat muncul kabar beberapa orang rela menggelontorkan uang hingga puluhan juta rupiah demi membeli sepeda bermerk. Bahkan, ada yang rela hingga menunggu beberapa bulan demi mendapatkan sepeda impian. Fenomena ini pun sempat menjadi perbincangan hangat masyarakat, tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri.

Pakar Marketing & Managing Partner Inventure, Yuswohady, kepada Kompas.com edisi 23 Juni 2020, mengungkapkan, masyarakat Indonesia memang memiliki keunikan apabila menyangkut tren bersepeda yang sedang berkembang. Menurut dia, salah satu alasan orang memiliki sepeda hingga puluhan atau bahkan ratusan juga rupiah karena faktor gengsi.

Padahal, menurut dia, saat ini jalur sepeda di Jakarta masih terbatas, meski sebenarnya di sejumlah jalan protokol telah tersedia. Hal ini berbeda apabila dibandingkan dengan masyarakat di luar negeri.

“Kalau di luar negeri 'kan orang memang fungsional, ke rumah sakit, minimarket, dan lain-lain (menggunakan sepeda),” kata Yuswohady.

Karena adanya anggapan faktor gengsi inilah akhirnya tren bersepeda di Indonesia sempat menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat. Ada yang menilai lebih baik menggunakan sepeda sesuai fungsinya, ada pula yang menganggap harga menentukan kualitas berkendara di samping persoalan gengsi.

 

Manfaat kesehatan

 

Terlepas dari pro dan kontra tersebut, bersepeda memang memiliki banyak manfaat kesehatan bagi tubuh. Rutin bersepeda merupakan salah satu solusi terbaik untuk mengurangi gaya hidup pasif seseorang, terlebih di tengah pandemi Covid-19, yang membuat aktivitas olahraga luar ruang menjadi terbatas.

 

Baca juga: Merawat Kesehatan Mental di Era New Normal

 

Selain itu, bersepeda juga dianggap memiliki efek samping rendah, seperti minim faktor risiko cedera apabila dibandingkan dengan olahraga fisik lainnya. Dengan setiap hari bersepeda, semua otot dalam tubuh pun akan dipaksa bergerak sehingga mampu melancarkan aliran darah di dalam tubuh.

Tren bersepeda juga baik untuk menjaga kesehatan jantung. Riset dari Denmar yang meneliti 30.000 orang berusia 20 hingga 93 tahun mengungkapkan, bersepeda mampu mengurangi kadar lemak darah dan meningkatkan fungsi paru-paru.

Demikian halnya dengan kesehatan mental. Apabila rutin bersepeda, penelitian mengungkapkan, orang akan merasakan efek yang sama seperti rekreasi sehingga dapat mendorong kadar dopamin dalam tubuh yang memicu rasa bahagia. Hal ini dapat mengurangi tingkat stres dan depresi.

 

Jangan lupa proteksi

 

Jadi, dengan banyaknya manfaat kesehatan seperti di atas, tidak salah jika Anda ingin mencoba menjaga kondisi tubuh di tengah pandemi Covid-19 dengan bersepeda. Hanya saja, jangan lupa untuk terus mematuhi protokol kesehatan apabila melakukan aktivitas itu bersama teman atau rekan-rekan.

Selain itu, agar rencana Anda menjaga kesehatan dapat berjalan maksimal, tidak salah juga mulai dari sekarang untuk memikirkan memiliki proteksi kesehatan, apabila belum memilikinya. Cigna Indonesia yang telah berpengalaman selama puluhan tahun dalam dunia asuransi di Indonesia memiliki beberapa opsi yang bisa dijadikan pilihan.

Cigna Premium Health Protection, misalnya. Produk ini dapat memberikan Anda perlindungan untuk mendeteksi penyakit sejak dini, rawat jalan mencakup konsultasi medis dan pemeriksaan diagnostik, rawat inap termasuk ICU dan pembedahan, hingga pemulihan pasca rawat inap di rumah sakit.

Selain itu, Cigna Premium Health Protection juga dilengkapi dengan fasilitas nontunai (cashless) di lebih 800 rumah sakit rekanan di Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Thailand. Pilihan manfaat perlindungan kesehatannya pun dapat disesuaikan dengan kebutuhan Anda dan keluarga, mulai dari Rp100juta-Rp500 juta per tahun, dengan premi mulai dari Rp300ribu-an per bulan.

 

Baca juga: New Normal, Cukupkah Proteksi Kesehatan yang Anda Miliki?

 

Ada juga produk Family Proteksi Optima yang dapat membuat Anda memiliki solusi untuk perlindungan terhadap penyakit kritis. Produk asuransi kesehatan ini memberikan perlindungan terhadap 10 jenis penyakit kritis dengan memberikan diskon premi hingga 50% bagi anggota keluarga.

Apabila ingin mengetahui jenis-jenis produk asuransi kesehatan lainnya, Anda bisa kunjungi laman di sini. Yuk, kita selalu jaga kesehatan selama pandemi COVID-19 dengan beragam aktivitas, termasuk tren bersepeda dengan teman serta keluarga, dan memiliki asuransi kesehatan yang terpercaya.