Sorry, you need to enable JavaScript to visit this website.
Skip to main content

Sama-Sama Bekerja, Perlukah Istri Punya Asuransi Jiwa?

Posted by setyo

Dalam bentuk keluarga tradisional, biasanya peran pencari nafkah utama didominasi oleh kaum lelaki alias si ayah. Tapi, seiring perkembangan zaman, tidak sedikit kaum hawa yang juga sukses membangun karir dan menjadi pencari nafkah juga untuk keluarga mereka. Kini, sudah jamak ditemui keluarga dengan dua sumber penghasilan (double income) di mana suami dan istri sama-sama bekerja dan membiayai rumah tangga mereka.

Semakin banyaknya perempuan yang berperan sebagai pencari nafkah keluarga tidak melulu didorong oleh kebutuhan ekonomi yang kian meningkat. Kebutuhan mengaktualisasikan diri juga sering menjadi pendorong utama mengapa semakin banyak perempuan yang menikmati peran sebagai ibu bekerja. Apakah keluarga Anda juga berprofil seperti itu? Dari segi pengelolaan finansial, keluarga double income dapat lebih leluasa mengatur pemenuhan kebutuhan mereka. Maklum, sumber penghasilan relatif lebih banyak dibandingkan keluarga single income.

Selain itu, tujuan keuangan keluarga juga bisa lebih cepat diwujudkan karena ada dua sumber pendapatan yang dapat diandalkan. Misalnya, pendapatan suami dikhususkan untuk membiayai operasional rumah tangga dan membayar beban cicilan utang. Sedangkan pendapatan istri bisa difokuskan untuk menabung dan berinvestasi demi tujuan keuangan. Di saat yang sama, keluarga double income juga lebih mungkin menjalankan gaya hidup yang nyaman sesuai keinginan karena memiliki sumber pendapatan yang memadai.

Tapi, bagaimana dengan kebutuhan asuransi keluarga dimana suami dan istri sama-sama bekerja dan bertindak sebagai pencari nafkah? Apakah keduanya sama-sama perlu memiliki asuransi jiwa? Yuk, simak penjelasannya di bawah ini:

 

1. Asuransi jiwa adalah proteksi yang wajib dimiliki

 

Setiap orang yang memiliki nilai ekonomi sebenarnya perlu memiliki asuransi jiwa sebagai langkah proteksi dari risiko kerugian finansial yang mungkin terjadi. Dalam konteks keluarga di mana suami dan istri sama-sama bekerja dan berperan sebagai pencari nafkah, keberadaan asuransi jiwa sama-sama diperlukan oleh keduanya.

Pasalnya, ketika sang suami mendadak meninggal dunia, keluarga menanggung risiko kehilangan salah satu pencari nafkah dan sumber pendapatan. Begitu juga ketika sang istri berpulang, itu berarti keluarga bisa kehilangan nilai ekonomi yang selama ini diberikan oleh si istri. Supaya stabilitas finansial keluarga tetap terjaga, sebaiknya keduanya sama-sama memiliki asuransi jiwa sebagai langkah proteksi keuangan. 

Dengan begitu, ketika salah satu dari suami dan istri meninggal dunia, keuangan keluarga tetap berjalan stabil. Pertanggungan asuransi jiwa bisa cair dan digunakan oleh keluarga yang ditinggalkan untuk melanjutkan hidup.

 

Baca juga: Mama Muda, Yuk Berikan Perlindungan untuk Keluarga Muda

 

2. Besar pertanggungan bergantung pada nilai ekonomi

 

Bila suami dan istri yang sama-sama bekerja dan menjadi pencari nafkah keluarga perlu asuransi jiwa, bagaimana menentukan nilai uang pertanggungan yang sesuai untuk keduanya? Menentukan besar uang pertanggungan asuransi jiwa bisa dengan banyak pendekatan. Pada dasarnya, besar kecil uang pertanggungan asuransi jiwa dihitung dengan melihat besar kecil nilai ekonomi seseorang. Karena yang diproteksi oleh asuransi jiwa sebenarnya adalah nilai penghasilan seseorang.

Misalnya, selama ini sang suami memiliki pendapatan lebih besar ketimbang istri, maka wajar bila nilai pertanggungan asuransi jiwa yang dibutuhkan pun lebih besar. Begitu juga sebaliknya, apabila sang istri selama ini penghasilannya lebih besar maka kebutuhan uang pertanggungannya pun idealnya lebih besar pula. 

 

Baca juga: Antisipasi Risiko Darurat dengan Menabung

 

3. Bila budget premi terbatas, siapa yang diprioritaskan?

 

Untuk mendapatkan perlindungan asuransi jiwa, Anda harus menyiapkan anggaran untuk membayar premi. Semakin besar nilai uang pertanggungan asuransi jiwa, kemungkinan semakin mahal pula premi yang harus dibayarkan.

Besar kecil premi juga dipengaruhi faktor lain. Misalnya, jenis asuransi apakah asuransi jiwa murni atau hibrida (unit linked, asuransi jiwa seumur hidup atau whole life insurance dan asuransi jiwa dwiguna), usia tertanggung ketika mengajukan pembelian polis asuransi jiwa, besar uang pertanggungan, jangka waktu perlindungan asuransi jiwa, rider atau manfaat tambahan asuransi jiwa yang disertakan, dan sebagainya.

Premi asuransi jiwa berjangka murni (term life) umumnya lebih murah dibandingkan premi asuransi jiwa berbentuk unit linked, whole life ataupun asuransi jiwa dwiguna. Begitu juga usia tertanggung saat pembelian polis. Premi tertanggung berusia 40 tahun jelas lebih mahal dibanding tertanggung berusia 29 tahun, misalnya. 

Bila anggaran Anda terbatas untuk membiayai premi asuransi suami dan istri, Anda bisa membuat prioritas pembelian asuransi jiwa secara bertahap. Dahulukan proteksi untuk pihak yang memiliki kontribusi penghasilan lebih besar pada keuangan keluarga. Misalnya, suami memiliki kontribusi pendapatan lebih besar, maka ia didahulukan untuk mendapatkan proteksi jiwa. Lalu, secara bertahap seiring peningkatan penghasilan, Anda bisa memenuhi proteksi untuk pihak lain yang belum dilindungi asuransi jiwa. Anggarkan minimal 10% dari total pendapatan rutin untuk kebutuhan asuransi, termasuk asuransi jiwa.

 

Baca juga: Tips Kelola Keuangan untuk Keluarga Muda

 

4. Pilih asuransi jiwa sesuai kebutuhan 

 

Mungkin Anda bingung hendak memilih asuransi jiwa yang seperti apa, apakah asuransi jiwa berjangka yang murni (term life) atau asuransi whole life, dwiguna atau unit linked? Sebelum memutuskan, sebaiknya Anda pahami dahulu perbedaan masing-masing jenis asuransi jiwa. Dari sana Anda bisa menimbang mana yang paling sesuai kebutuhan dan profil keuangan keluarga.

Pertama, asuransi jiwa berjangka (term life). Yaitu asuransi jiwa yang memberikan proteksi jiwa selama jangka waktu tertentu. Karena hanya memiliki fungsi proteksi, premi asuransi jiwa berjangka bisa dibilang yang paling murah dibanding jenis asuransi jiwa. Tidak ada fitur investasinya sehingga tidak ada nilai tunai yang terbentuk.

Kedua, asuransi jiwa seumur hidup (whole life). Yaitu asuransi jiwa yang memberikan proteksi seumur hidup. Selain fitur proteksi, asuransi ini juga memiliki fitur tabungan. Jadi, saat si tertanggung masih sehat walafiat hingga akhir masa kontrak, ada nilai tunai yang bisa didapatkan. Kekurangannya, preminya biasanya jauh lebih mahal dibanding term life.

Ketiga, asuransi jiwa dwiguna. Asuransi ini menggabungkan term life dengan tabungan rencana bank. Jadi, ia memberi proteksi hingga jangka waktu tertentu, misalnya 20 tahun, lalu di waktu-waktu tertentu sesuai kesepakatan pemegang polis bisa mengambil dana secara teratur.

Keempat, asuransi jiwa unit linked. Asuransi jiwa dengan dua fungsi yaitu proteksi dan investasi. Premi yang Anda setorkan akan dibayarkan untuk membiayai proteksi dan juga sebagai setoran investasi yang diputar di produk reksa dana. 

Itulah beberapa hal yang penting Anda ketahui bila tengah menimbang kebutuhan asuransi jiwa untuk suami dan istri. Tidak bingung lagi, kan?