Sorry, you need to enable JavaScript to visit this website.
Skip to main content

Rapid Test COVID-19 Diklaim Tidak Akurat, Benarkah?

Posted by setyo

Baru-baru ini, media massa dan media sosial kembali dihebohkan oleh klaim seorang pakar yang menyebut bahwa hasil rapid test COVID-19 adalah palsu. Benarkah demikian? Padahal, rapid test masih menjadi prosedur resmi bagi berbagai perusahaan yang hendak mengirimkan karyawan dinas. Banyak rumah sakit juga menyediakan layanan rapid test COVID-19.

Rapid test dibagi menjadi dua jenis, yakni rapid test antibodi dan rapid test antigen. Untuk mengetahui akurasi hasil rapid test, kita perlu mengenal cara kerja tes tersebut.

 

Cara kerja rapid test

 

1. Tubuh perlu waktu memproduksi antibodi

Dikutip dari Alodokter, rapid test COVID-19 yang banyak dipakai saat ini adalah rapid test untuk mendeteksi antibodi, yakni IgM dan IgG. Tubuh yang terpapar virus corona akan memproduksi kedua antibodi ini dalam melawan virus tersebut.

Artinya, jika tubuh terdeteksi memproduksi antibodi IgM dan IgG, berarti tubuh pernah terpapar oleh virus corona. Namun, perlu waktu bagi tubuh untuk membentuk antibodi tersebut. Ini yang membuat akurasi rapid test antibodi tergolong rendah.

Bahkan, Alodokter mencatat, keakuratan rapid test dalam mendeteksi antibodi terhadap SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19, hanya 18%. Dengan kata lain, jika 100 orang dinyatakan negatif dalam rapid test COVID-19, hanya 18 orang yang benar-benar tidak terinfeksi. Dengan alasan ini pula World Health Organization (WHO) tidak menyarankan rapid test antibodi sebagai metode mendiagnosis COVID-19.

 

Baca juga: Para Traveller Wajib Persiapkan Ini di Era New Normal

 

2. Hasil rapid test antibodi memiliki beberapa pengertian

Metode rapid test antibodi dilakukan dengan cara mengambil sampel darah, lalu meneteskan darah tersebut ke alat rapid test. Kemudian, cairan untuk menandai antibodi akan diteteskan di tempat yang sama. Setelah 10 menit hingga 15 menit, akan muncul garis. Dua garis menandakan positif pernah terinfeksi virus corona. Sementara garis satu berarti negatif.

Jika seseorang mendapati hasil negatif dari rapid test antibodi, hasil ini bisa berarti, tubuh seseorang sudah terinfeksi virus corona, hanya saja belum membentuk antibodi. Itu sebabnya, jika seseorang mendapati hasil rapid test negatif, maka ia disarankan untuk mengulang rapid test kembali dalam tujuh hari hingga 10 hari ke depan. Ia pun disarankan untuk melakukan isolasi mandiri selama 14 hari, meskipun tidak menunjukkan gejala COVID-19.

Namun, jika hasil rapid test antibodi positif, ini bisa jadi tubuh memang terinfeksi virus penyebab COVID-19. Tetapi, ini juga bisa berarti tubuh terinfeksi virus lain atau virus corona lain selain yang menyebabkan COVID-19. Jadi, bagi seseorang yang mendapati hasil rapid test positif, disarankan untuk melakukan tes lanjutan yakni polymerase chain reaction (PCR).

 

Baca juga: Ini Cara Menjaga Pikiran Tetap Positif saat Pandemi COVID-19

 

3. Rapid test antigen hanya akurat bagi tubuh dengan tingkat infeksi tinggi

Di samping rapid test antibodi, belakangan ini muncul rapid test antigen atau protein yang membentuk badan SARS-CoV-2. Meski diklaim lebih akurat dibandingkan dengan rapid test antibodi, namun rapid test antigen bukan tanpa kelemahan. Rapid test antigen disebut hanya akurat untuk pasien yang kandungan virus dalam tubuhnya tinggi.

Harvard Health Publishing pada Agustus 2020 menyebutkan, tingkat ketidakakuratan hasil rapid test antigen negatif bisa mencapai 50%. Itu sebabnya, penggunaan metode ini sebagai tes diagnosis awal tidak disarankan.

Namun, rapid test antigen tetap digunakan karena lebih cepat dan lebih murah dibanding tes PCR. Para ahli menyarankan agar seseorang yang melakukan rapid test antigen untuk mengulang kembali tes ini seminggu kemudian.

 

4. Hasil rapid test antigen memiliki beberapa pengertian

Pemeriksaan rapid test antigen bisa dilakukan dengan cara mengambil sampel lendir hasil swab hidung, tenggorokan, atau bisa juga air liur. Hasil tes ini bisa keluar dalam 15 menit. Bila hasil rapid tes antigen menunjukkan negatif, seseorang tetap perlu menjalani isolasi mandiri. Namun jika hasil positif, maka itu bisa jadi antigen tidak berasal dari virus penyebab COVID-19.

Mengacu pada tingkat efektivitas rapid test antibodi dan antigen di atas, maka para ahli menganjurkan seseorang untuk memeriksa lebih lanjut dengan metode PCR untuk menguji apakah tubuh terinfeksi virus corona atau tidak. Karena, metode ini mengecek langsung keberadaan virus corona, bukan melalui ada tidaknya antibodi atau antigen virus ini.

 

Baca juga: Perlukah Menambah Asuransi Meski Sudah Ada dari Kantor?

 

Selain mengetahui tingkat efektivitas rapid test COVID-19, yang tak kalah penting ialah untuk tetap waspada dan menjaga diri agar terhindar dari infeksi virus corona. Caranya ialah dengan menjaga jarak, rajin mencuci tangan, dan memakai masker. Untuk perlindungan yang optimal, Anda juga dapat melengkapi diri dan keluarga dengan Cigna Family Care Optima, asuransi kesehatan dari Cigna Indonesia yang memberikan perlindungan hingga lima anggota keluarga dalam satu polis. Asuransi kesehatan ini menyediakan empat pilihan uang pertanggungan dengan total manfaat per tahun hingga Rp400 juta. Dengan memiliki asuransi kesehatan keluarga, pikiran tenang, keluarga tercinta pun terlindungi.