Sorry, you need to enable JavaScript to visit this website.
Skip to main content

Awas Kebablasan, Waspada Bahaya Sistem Pay Later Berikut Ini

Posted by setyo

Jika Anda berselancar di beberapa situs e-commerce dan akomodasi, Anda akan disuguhkan pada opsi sistem pembayaran teranyar, yakni opsi bayar kemudian atau pay later. Pay later merupakan layanan pinjaman online tanpa kartu kredit yang memungkinkan konsumen membayar suatu transaksi di kemudian hari, baik dengan sekali bayar atau dengan mencicil. Fasilitas pinjaman ini juga sering disebut dengan istilah credit limit.

Opsi pay later ini bisa Anda jumpai di situs booking kamar hotel, booking tiket pesawat, booking tiket kereta api, financial technology (fintech) peer-to-peer lending (P2P lending)marketplace, hingga digital payment. Manfaat “bayar nanti” ini bikin sistem pay later begitu diminati konsumen, khususnya anak muda. Apakah Anda termasuk?

 

Tapi sebetulnya, apa sih pay later itu?

 

Dari namanya, Anda mungkin sudah bisa menebak bahwa pay later merupakan fasilitas utang atau pinjaman online tanpa agunan. Layanan ini muncul karena adanya e-commerce serta startup fintech yang menyalurkan pinjaman online. Fasilitas membayar kemudian ini menyasar mereka yang ingin beli produk atau jasa, namun tak mampu membayar secara tunai.

Sedikit berbeda dengan pinjaman dari aplikasi fintech P2P lending kebanyakan yang menyediakan pinjaman dalam bentuk uang tunai, maka pay later hanya menyediakan pinjaman untuk pembayaran suatu barang dan jasa. Alias, peminjam tidak bisa menguangkan atau gesek tunai pinjaman yang diakses melalui pay later.

Jadi, sebuah layanan pay later lahir atas keterlibatan tiga pihak, yaitu:

  • Pembeli potensial, alias mereka yang berminat membeli barang atau jasa, namun memiliki keterbatasan dalam melakukan pembelian atau pembayaran secara tunai. Jika pembeli tersebut akhirnya membeli barang atau jasa dengan fasilitas pay later, maka ia juga akan berperan menjadi debitur.
  • Situs penyedia layanan pay later, yaitu perusahaan yang menawarkan barang atau jasa seperti tiket pesawat, hotel, dan e-commerce.
  • Fintech, yaitu pihak yang menyalurkan pinjaman dan akan menagih pinjaman. Fintech ini juga yang akan menentukan seberapa besar fasilitas serta berbagai ketentuan pinjam-meminjam lainnya yang bisa didapatkan oleh calon pembeli.

 

Baca juga: 5 Pengeluaran Kecil yang Berdampak Besar pada Pengeluaran Bulanan Anda

 

Tampak mudah dan menggoda, tapi kenali dulu risiko pay later

 

Jika memang tidak berbeda dengan utang konvensional, lantas mengapa fasilitas tersebut dinamakan pay later? Tentu, ini tidak terlepas dari konsep bisnis yang dirancang oleh situs penyedia pay later. Jika merujuk ke berbagai pemberitaan, para pionir pay later enggan menggunakan kata utang karena tidak ingin ada kesan buruk yang melekat di fasilitas pembiayaan yang ditawarkan fintech.

Agar pay later terkesan berbeda dengan utang konvensional, perancang fasilitas bayar belakangan ini juga melakukan beberapa modifikasi. Bentuk modifikasi paling umum yang sekaligus menjadi risiko pay later adalah:

 

1. Tidak terang-terangan memasang biaya bunga atas pinjaman yang diberikan

 

Namun, tidak berarti pay later bebas bunga. Karena, bunga dalam fasilitas pay later ini sudah tercermin dalam komponen harga. Itu sebabnya, banderol harga untuk transaksi pay later biasanya lebih tinggi dibandingkan harga untuk transaksi tunai. Jika ditelisik, harga barang atau jasa yang dikenakan untuk opsi pay later ini setara dengan bunga mulai dari 2,9% per bulan.

Meski bunga ini termasuk tinggi, yakni setara dengan 34,8% per tahun, namun dipandang menarik karena tidak berbeda jauh dengan bunga kartu kredit yang mulai dari 2,25% per bulan. Namun, syarat memperoleh fasilitas pay later lebih mudah ketimbang memperoleh fasilitas pinjaman kartu kredit.

 

2. Memasang syarat yang lebih longgar

 

Jebakan pay later selanjutnya ialah syarat yang mudah. Misalnya, usia calon pengguna fasilitas pay later bisa sampai 70 tahun, atau lebih panjang dari syarat usia maksimal calon nasabah kartu kredit yang umumnya hanya sampai 55 tahun. Kelonggaran lain seperti dalam dokumen yang harus diserahkan. Calon pengguna pay later umumnya hanya harus mengisi formulir dan mencantumkan beberapa dokumen seperti foto KTP dengan kamera ponsel, dokumen pendukung seperti BPJS, KK, SIM, kemudian mengambil foto selfie dengan kamera ponsel sambil menggenggam KTP. Beberapa sistem pay later mensyaratkan penghasilan minimal Rp3 juta dan harus mencantumkan slip gaji.

Setelah proses pendaftaran selesai, penyedia pay later akan melakukan verifikasi dan mengaktivasi pendaftaran calon pengguna dalam waktu 1 jam. Setelah diaktivasi, pengguna bisa memakai fasilitas pay later dengan credit limit hingga Rp1 juta. Tentu ini lebih mudah dari syarat pengajuan pinjaman P2P lending, kartu kredit, atau kredit tanpa agunan (KTA).

 

3. Tidak menuntut calon pengguna memiliki rekam jejak sebagai debitur

 

Kelonggaran ini biasanya dinyatakan dalam bentuk si calon pengguna fasilitas tidak diharuskan memiliki kartu kredit. Dengan demikian, semakin banyak calon pengguna yang bisa mengakses fasilitas tersebut.

 

Baca juga: Wisata ke Luar Negeri Tidak Perlu Menguras Kantong

 

4. Jika menunggak, maka…

 

Yang perlu Anda ingat, jika Anda mangkir dari cicilan pay later, maka risiko yang Anda hadapi sebetulnya hampir sama dengan risiko jika gagal bayar utang kartu kredit dan utang perbankan lainnya. Pertama, layanan penyedia pay later akan membekukan akun Anda jika tidak bayar tagihan maksimal tiga hari setelah jatuh tempo. Kedua, Anda tidak lagi bisa menggunakan metode pembayaran pay later di situs tersebut, kecuali untuk membayar tagihan. Ketiga, penyedia layanan pay later bisa menempuh jalur hukum. Keempat, ini akan mempengaruhi credit scoring Anda.

Fintech penyedia pinjaman pay later adalah lembaga yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Nah, OJK memiliki data credit scoring debitur lembaga perbankan dan pembiayaan yang ada di Indonesia. Jadi, jika Anda tidak bayar cicilan, maka credit scoring Anda akan terekam di OJK. Credit scoring ini yang akan menjadi tolok ukur perbankan atau Lembaga pembiayaan dalam menyalurkan kredit ke calon nasabah. Jika Anda punya credit scoring buruk, maka sulit bagi Anda untuk memperoleh kredit seperti kredit pemilikan rumah (KPR) atau kredit kendaraan bermotor (KKB).

Kelima, pengalaman tidak enak yang bisa Anda hadapi jika menunggak. Anda tentu pernah membaca banyak kisah penagihan pinjaman online beredar di media massa. Tak jarang penagih bertindak tidak etis dalam menagih utang, misalnya menagih secara terus-menerus dengan bahasa yang kasar ke anggota keluarga terdekat, rekan kerja, bahkan bos dari si peminjam. Duh, jangan sampai ini terjadi pada Anda, ya.

 

4. Ada denda yang menanti

 

Bahaya pay later selanjutnya ialah denda yang bisa terakumulasi. Serupa dengan fasilitas kredit perbankan, pay later juga mengenakan denda jika peminjam menunggak. Denda yang dikenakan umumnya 0,1% per hari. Angka ini tetap lebih ringan dari denda utang perbankan pada umumnya. Meski demikian, jika Anda terus menunda membayarnya, maka denda ini akan menggulung dan menjadi bencana finansial bagi keuangan Anda.

 

Baca juga: Ini Manfaat Kopi Sekaligus Efek Sampingnya Jika Dikonsumsi Setiap Hari

 

Tips bijak menggunakan pay later

 

Dengan mengenal risiko pay later di atas, maka sudah selayaknya Anda menimbang matang-matang sebelum menggunakan fasilitas pay later dalam berbelanja. Jika Anda biasanya hanya menggunakan kartu kredit untuk kebutuhan yang sangat-sangat perlu dan mendesak, berarti Anda juga tidak seharusnya menggunakan pay later untuk memenuhi keinginan yang tidak perlu-perlu amat, seperti membiayai traveling atau membeli gadget baru.

Jika Anda sudah menghitung secara cermat saat mengambil utang seperti utang kartu kredit atau KTA, mengapa Anda tidak melakukan hal yang sama sebelum memanfaatkan fasilitas pay later? Jangan sampai Anda menggunakan fasilitas pay later semata untuk memenuhi dorongan impulsif. Sebelum mengklik opsi pay later, pastikan hal ini dulu:

  • Barang atau jasa yang akan dibeli dengan fasilitas pay later benar-benar Anda butuhkan
  • Harga yang ditawarkan untuk pembelian dengan memanfaatkan fasilitas pay later tidak berbeda dengan harga yang ditawarkan untuk pembelian dengan pembayaran tunai.
  • Cicilan yang harus Anda bayar tidak melampaui beban pengeluaran rutin yang bisa Anda tanggung setiap bulannya.
  • Cermat dan hati-hati saat memutuskan memakai pay later. Karena, fitur tersebut memiliki konsekuensi yang tak berbeda dengan utang konvensional.
  • Jangan gampang terlena dengan tawaran pay later yang penuh dengan bahasa merdu.

Membeli barang sekarang dan membayar kemudian memang tampak menarik. Tapi, hal ini menjadi berbahaya jika barang yang ingin Anda beli itu tidak penting-penting amat. Yuk, bijak menggunakan pay later.