Sorry, you need to enable JavaScript to visit this website.
Skip to main content

Teruntuk Ayah Baru, Ini Tips Mengelola Uang Untukmu

Posted by setyo

Apakah tahun ini menandai perubahan status Anda dari lajang menjadi seorang ayah? Jika iya, Anda mungkin sudah terbiasa dengan komentar ini: Membesarkan anak saat ini butuh banyak uang lho.

Jika itu benar adanya, memang berapa sih uang yang diperlukan untuk membesarkan anak di negeri ini? Nampaknya, belum ada lembaga yang secara metodologis mensurvei hal tersebut. Tapi, tidak ada salahnya jika sedini mungkin Anda dan pasangan mulai berpikir bagaimana membesarkan buah hati secara baik tanpa harus menghabiskan jumlah uang di saldo rekening Anda?

Berikut 4 tips soal uang yang bisa diimplementasikan sehari-hari oleh para ayah dalam membesarkan anaknya.

 

1. Buat anggaran

 

Pada tahun pertama kelahiran seorang bayi, orang tua kerap menghadapi dua tantangan sekaligus. Pertama, lonjakan biaya dalam mengasuh bayi di tahun pertama. Kedua, adanya potensi kehilangan pendapatan ketika salah satu dari Anda -biasanya terjadi pada ibu baru- harus keluar dari pekerjaan demi merawat sang buah hati.

Namun, sebelum memutuskan resign, pasangan bisa memanfaatkan hak cuti hamil. Indonesia adalah negara yang memberikan hak upah secara penuh berupa gaji atau uang kepada seluruh pekerja perempuan yang menggunakan hak atas cuti melahirkan.

Berdasarkan Pasal 1 (3) dan 82 UU Ketenagakerjaan (UU No. 13/2003), negara menjamin cuti hamil selama 3 bulan kepada semua pekerja/buruh perempuan, dengan ketentuan cuti berlangsung selama 45 hari sebelum melahirkan (berdasarkan hasil pemeriksaan dokter kandungan atau bidan) dan 45 hari setelah melahirkan.

Artinya, Anda bersama pasangan bisa menabung dari uang cuti melahirkan yang didapatkan sang istri selama masa pra dan setelah kehamilan.

 

2. Gunakan popok kain

 

Tahukah Anda apabila rata-rata bayi baru menghabiskan sekitar 2.400 popok pada tahun pertama? Karenanya, mengurangi biaya popok sekali pakai tentunya adalah langkah penghematan uang yang signifikan.

Berikut ini skenario yang realistis. Pada tahap perkembangan bayi newborn alias usia 0-1 bulan, jumlah frekuensi bayi melakukan Buang Air Kecil (BAK) adalah sebanyak 10-20 kali sehari. Sementara frekuensi Buang Air Besar (BAB) adalah 4-12 kali.

Dengan kebutuhan popok per hari mencapai 10-12 popok sekali pakai atau diapers. Artinya, dalam sebulan, Anda harus membeli popok sebanyak 372 piece.

Kebutuhan popok pun berganti seiring dengan usia bayi. Anak Anda akan terasa lebih nyaman mengenakan popok tipe celana dengan ukuran yang mengikuti usianya. Selama bayi usia 1-12 bulan, kebutuhan popok sekali pakai berkisar antara 200 hingga 300 piece per bulan. Kalau dihitung selama setahun, maka total kebutuhan popok sekali pakai menembus 2.400-3.600 piece.

Sekarang mari hitung biayanya. Dengan harga pasaran satu buah popok diapers Rp 2.000, maka jumlah uang yang dihabiskan selama setahun mencapai Rp 4,8 juta hingga Rp 7,2 juta hanya untuk popok. Eits, itu baru setahun. Rata-rata bayi laki-laki masih membutuhkan popok hingga usia 39 bulan, sedangkan pada bayi perempuan rata-rata usia 35 bulan. Artinya, pengeluaran Anda untuk popok akan berlanjut untuk tahun kedua dan ketiga pasca kelahiran anak.

Lantas, mengapa tidak gunakan popok kain atau clodi? Selain dapat digunakan berkali-kali karena bisa dicuci, juga dapat meminimalisir ruam kulit di pantat bayi. Ini lantaran bahan kain mampu dengan mudah menyerap air. Selain itu, Anda juga berkontribusi dalam memanfaatkan produk ramah lingkungan. Sebab popok kain tidak menghasilkan limbah pembuangan popok.

Bagaimana dengan biayanya? Satu popok kain di beberapa situs e-commerce dibanderol seharga Rp25.000-Rp39.000 untuk 1-3 piece. Coba bayangkan, berapa rupiah uang yang bisa Anda hemat dalam setahun?

 

Baca Juga: Ayah, Anak Bukan Tanggung Jawab Ibu Saja

 

3. Manfaatkan barang pre-loved

 

Istilah pre-loved kini mulai santer digunakan dalam industri fesyen. Tapi, bagi Ayah baru, Anda harus mulai menyadari pentingnya barang-barang pre-loved alias second dalam memenuhi kebutuhan si kecil, dan tentunya menghemat uang Anda.

Dari mulai tempat tidur, stroller, mainan, hingga pakaian bayi, tanpa disadari semua itu didapat dengan merogoh uang hingga jutaan rupiah apabila Anda membelinya secara baru.

Harga satu sweater bayi bermerek terbaru di pusat belanja sebesar Rp 400 ribu. Akan tetapi, merek yang sama bisa Anda dapatkan dengan harga Rp 75 ribu di berbagai e-commerce yang menjual pakaian pre-loved.

Membeli pakaian pre-loved pun dilandasi oleh alasan yang rasional. Rata-rata bayi tumbuh sekitar 2,5 inci per tahun. Bahkan, pakaian yang dibelikan dengan ukuran sesuai pun hanya pas dikenakan hingga satu bulan saja. Jikalau harus membeli baru, belilah pakaian dengan ukuran satu tingkat lebih besar. Dengan begitu, Anda akan jauh menghemat uang.

 

4. Kenalkan perpustakaan

 

Perkenalkan anak Anda ke perpustakaan terdekat sesegera mungkin. Ini tidak hanya membantu menumbuhkan kecintaan membaca buku, tetapi juga dapat menghemat uang Anda.

Ketimbang selalu membeli buku baru untuk putra-putri Anda, biarlah mereka memiliki kartu perpustakaan, dan lakukan kunjungan rutin ke tempat tersebut. Cara ini bisa membantu Anda untuk tahu tipe atau topik buku apa yang disukai oleh anak Anda. Ini pun bisa menjadi rujukan bagi Anda jika membelikan ia hadiah sebuah buku.

Keempat tips di atas sebenarnya cukup mudah untuk dilakukan bagi para calon ayah. Ajak pasangan untuk menerapkan hal yang sama sehingga Anda berdua akan menghemat lebih banyak uang, yang tentunya bisa Anda gunakan untuk mulai memiliki asuransi bagi keluarga kecil Anda.

 

Baca Juga: 5 Alasan Anda Wajib Memiliki Asuransi Keluarga

 

Anda bisa mulai berlangganan Cigna Family Care Optima, yang merupakan asuransi dari Cigna Indonesia dengan manfaat melindungi hingga 5 orang anggota keluarga, namun hanya membayar untuk 1 premi saja. Perlindungan ini turut dilengkapi dengan fasilitas pengembalian premi sebesar 30% setiap 5 tahun, baik ada klaim maupun tidak ada klaim. Menarik bukan? Silakan cek informasi detail di link berikut.