Sorry, you need to enable JavaScript to visit this website.
Skip to main content

Pahami Risiko Pay Later sebelum Terjebak Iming-Imingnya

Posted by setyo

Dahulu, berutang adalah hal yang tidak mudah dilakukan oleh banyak orang. Tak sedikit yang takut tidak bisa membayar tagihan, menjadi boros, atau takut bunga besar ketika mereka membeli sesuatu dengan berutang. Namun, saat ini, penawaran yang bermacam-macam menjadikan berutang tidak lagi tampak menakutkan.

Salah satu penawaran tersebut adalah sistem pay later. Sistem ini sedang banyak dipromosikan oleh perusahaan bisnis digital dimana orang-orang bisa membeli atau memesan sesuatu dan membayarnya di akhir bulan. Bagi beberapa orang, sistem ini cukup membahagiakan. Hal yang bisa juga Anda rasakan.

Namun, meski dianggap lebih memudahkan dalam memenuhi kebutuhan, risiko pay later tetap menjadi hal yang perlu Anda perhatikan. Bagi Anda generasi milenial, skema utang ini sangat memfasilitasi meningkatnya kebiasaan pemenuhan kebutuhan dengan berutang secara cepat dan mudah.

 

Baca juga: 5 Cara Milenial Mulai Investasi

 

Bagaimana tidak? Skema utang pay later datang dengan kemudahan yang cukup nyaman bagi para generasi milenial yang menyukai hal-hal mudah, cepat, dan praktis. Pada beberapa perusahaan bisnis digital, pay later dapat didapatkan dengan satu sampai dua kali klik saja. Kebanyakan pengguna hanya diminta mengisi beberapa data diri sesuai dengan kartu tanda penduduk saja.

Kemudahan itulah yang justru menjadi risiko pay later yang harus diwaspadai oleh generasi milenial. Pasalnya, dengan kemudahan tersebut, generasi milenial justru bisa terlena dan menjadi boros dalam memenuhi kebutuhan mereka baik yang primer, sekunder, atau bahkan tersier.

 

Baca juga: Cara Menabung dalam Kondisi Keuangan Sulit

 

Selain mendorong perilaku konsumtif seperti tadi, risiko pay later juga datang dari keberadaan biaya tambahan yang terkadang tidak disadari oleh generasi milenial. Milenial yang menyukai kecepatan dan kepraktisan bisa saja melewatkan informasi mengenai biaya tambahan seperti biaya langganan dan biaya cicilan yang langsung aktif ketika mereka mengaktifkan fitur pay later. Karena itu, untuk menghindari risiko pay later yang satu ini, Anda perlu memperhatikan terlebih dahulu syarat dan ketentuan yang ada dalam fitur tawaran pay later.

Satu lagi risiko pay later yang harus Anda perhatikan, yaitu bahaya keamanan identitas Anda. Kebanyakan tawaran pay later meminta Anda untuk memasukkan data pribadi sebagai syarat aktivasi fitur keuangan tersebut. Tak tanggung-tanggung, terkadang Anda harus mengunggah foto kartu tanda penduduk Anda bersamaan dengan wajah Anda. Apabila suatu saat terjadi peretasan pada data yang dimiliki oleh perusahaan penyedia fitur tersebut, data Anda juga bisa dalam bahaya karena dapat digunakan orang lain untuk melakukan hal tidak bertanggung jawab yang merugikan Anda. Karena itu, pastikan bahwa fitur pay later yang Anda pilih tidak rawan dari peretasan.

 

Baca juga: Alasan Milenial Perlu Punya Asuransi

 

Apapun keputusan yang Anda ambil dalam menggunakan fitur-fitur keuangan digital, kebijaksanaan dan rasa berhati-hati harus tetap Anda pertahankan. Apabila Anda memilih untuk menggunakan fitur keuangan pay later, pastikan untuk tetap melindungi diri Anda dari risiko pay later yang bisa berbahaya bagi kondisi keuangan.

Selain itu, lindungi diri Anda juga dengan produk-produk proteksi seperti asuransi yang bisa meringankan keuangan Anda apabila hal yang tidak diinginkan tiba-tiba datang. Dengan bijak dalam mengambil keputusan penggunaan fitur keuangan digital dan melindungi diri dengan produk proteksi yang pas, Anda bisa maksimal dalam melindungi kondisi keuangan Anda.