Sorry, you need to enable JavaScript to visit this website.
Skip to main content

Hitung Uang Pertanggungan Asuransi Jiwa Sesuai Kebutuhan dengan Cara Ini

Posted by setyo

Uang pertanggungan (UP) atau santunan asuransi jiwa memiliki banyak manfaat bagi siapa saja yang memilikinya. UP asuransi jiwa bisa menjadi bekal bagi keluarga tercinta untuk melanjutkan hidup, jika tertanggung tutup usia. Maka, tak berlebihan jika asuransi jiwa disebut lebih dari sekadar materi, tetapi tanda cinta dan kepedulian Anda bagi orang-orang tersayang.

Karena, dengan memiliki UP asuransi jiwa yang mumpuni, dana ini bisa bermanfaat untuk banyak hal. Yang pertama, UP bisa berguna untuk menutup loan atau utang. Sehingga, keluarga yang ditinggalkan tidak akan pusing atau risau jika tertanggung masih memiliki utang yang belum lunas ketika wafat. Kedua, UP asuransi jiwa bisa berguna sebagai pengganti income atau penghasilan. Itu sebabnya, asuransi jiwa penting dimiliki oleh siapa saja yang menjadi breadwinner atau pencari nafkah dalam keluarga.

 

Baca juga: 5 Manfaat Memiliki Asuransi Yang Sangat Berguna Untuk Anda

 

Ketiga, UP asuransi jiwa bisa bermanfaat menggantikan final expense atau biaya segera ketika tertanggung wafat, seperti biaya pengobatan saat kondisi darurat, biaya pemakaman, persemanyaman, pengajian atau kebaktian, pajak warisan, dan sebagainya. Lalu yang keempat, UP asuransi jiwa bermanfaat sebagai biaya lain-lain termasuk biaya pendidikan anak, modal usaha, biaya naik haji, dan sebagainya.

 

Tiga metode menghitung UP asuransi jiwa

 

Pastikan UP asuransi jiwa Anda bisa menutup berbagai manfaat asuransi jiwa ini. Karena kalau tidak, maka fungsi asuransi jiwa itu sebagai pengaman bagi keluarga yang ditinggalkan menjadi tidak optimal. Lantas, bagaimana cara menghitung UP asuransi jiwa yang ideal? Setidaknya ada tiga metode yang bisa Anda pakai yaitu multiple approach, needs approach, dan capital needs.

 

1. Multiple approach

 

Metode ini disebut juga metode pengganti penghasilan. Sesuai dengan namanya, metode ini memang bertujuan bertujuan mencari penghasilan tahunan yang akan diterima penerima manfaat sejak pencari nafkah wafat hingga ia memasuki usia pensiun. Meski terbilang paling simpel, namun pendekatan ini disebut-sebut kurang akurat. Karena, pendekatan ini tidak memperhitungkan tingkat inflasi dan mengasumsikan imbal hasil investasi selalu stabil.

Anda bisa menghitung jumlah UP dengan bantuan kalkulator finansial dengan memasukkan keterangan-keterangan berikut. Contoh kasus, Nur berpenghasilan Rp120 juta per tahun (PMT) dan ia akan pensiun 20 tahun mendatang (n). Tingkat imbal hasil investasi saat ini ialah 5% per tahun (i). Jadi, UP yang dibutuhkan Nur (PVAD) dengan metode multiple approach adalah Rp1,5 miliar.

 

Baca juga: Perlukah Menambah Asuransi Meski Sudah Ada dari Kantor?

 

2. Needs approach

 

Metode ini bertujuan menemukan jumlah UP berdasarkan kebutuhan keluarga. Pendekatan ini disebut-sebut lebih akurat ketimbang multiple approach karena perlu memperhitungkan jumlah tanggungan, asuransi yang sudah ada, aset yang dimiliki, pengeluaran biaya hidup keluarga yang ditinggalkan, serta net return atau imbal hasil bersih.

Contoh kasus, pengeluaran keluarga Satrio saat ini ialah Rp12 juta per bulan, dengan pengeluaran Satrio pribadi Rp2 juta per bulan. Ketika Satrio wafat, berarti pengeluran keluarga tinggal Rp10 juta, karena pengeluaran Satrio diasumsikan sudah tidak diperlukan.

Anak terkecil Satrio memerlukan waktu 12 tahun (n) sampai ia mencapai usia 22 tahun dan bisa mencari nafkah. Dengan imbal hasil bersih ialah 3% per tahun (i), maka kebutuhan proteksi keluarga Satrio (PVAD) jika dihitung dengan kalkulator finansial mencapai Rp1,2 miliar.

Setelah itu, Anda perlu memperhitungkan aset lain yang bisa digunakan untuk mengurangi kebutuhan proteksi. Taruhlah, Satrio punya saham, reksa dana, dan deposito sebesar Rp200 juta. Dalam tahap ini, Anda tidak perlu memperhitungkan aset yang berfungsi sebagai kebutuhan dasar, seperti rumah atau mobil. Karena, keluarga diasumsikan akan tetap membutuhkan aset ini dan tidak akan menjualnya. Baru langkah terakhir, kurangi total kebutuhan proteksi Satrio dengan aset likuid yang dimiliki, yakni Rp1,2 miliar – Rp200 juta, sehingga UP yang dibutuhkan ialah Rp1 miliar.

 

Baca juga: Wow, Ingin Traveling? Coba Virtual Tourism!

 

3. Capital need approach

 

Metode ini disebut juga pendekatan kebutuhan modal. Seseorang mencari UP dengan metode ini dengan tujuan menghasilkan bunga. Bunga itulah yang selanjutnya digunakan oleh penerima manfaat atau keluarga yang ditinggalkan untuk menjalankan kehidupan sehari-hari.

Contoh kasus Sidik memerlukan pendapatan sebesar Rp120 juta per tahun. Jika imbal hasil investasi saat ini mencapai 5% per tahun dan inflasi sebesar 2% per tahun, UP asuransi jiwa yang diperlukan bisa dihitung dengan cara, pendapatan yang dibutuhkan dibagi imbal hasil bersih, kemudian ditambahkan pendapatan yang dibutuhkan.

Sama dengan: (Rp120 juta : 0,03) + Rp120 juta. Sehingga, UP yang diperlukan Indra ialah Rp4,1 miliar. Pendekatan ini jarang dipakai, karena jumlah UP yang dibutuhkan begitu besar. Sehingga, premi yang perlu disetor nasabah juga terbilang tinggi.

 

Baca juga: Krisis Karena Pandemi Virus Corona, Investasi Apa yang Cocok untuk Masa Depan?

 

Semoga kini Anda semakin paham pentingnya menemukan UP asuransi jiwa yang sesuai dan cara menghitungnya. Untuk perlindungan diri terbaik, Anda bisa mempertimbangkan Cigna Exclusive Protection, asuransi jiwa berjangka dari Cigna Indonesia yang memberikan manfaat pengembalian premi hingga 110% dari total premi yang dibayarkan di akhir masa perlindungan.

Asuransi ini memberikan Anda perlindungan Anda dan keluarga dari berbagai risiko finansial akibat tutup usia, baik yang terjadi karena sebab alami maupun kecelakaan. Anda pun dapat berkonsultasi dengan agen pemasar Cigna Indonesia untuk menemukan UP asuransi jiwa yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan Anda dan keluarga. Selamat memilih!