Sorry, you need to enable JavaScript to visit this website.
Skip to main content

Untuk Fresh Graduate, 4 Hal Ini Bisa Mempercepat Peroleh Pekerjaan

Posted by setyo

Setiap lulusan baru mengharapkan dapat bekerja langsung, bahkan sebelum momen wisuda dimulai. Jika Anda masih belum memiliki pekerjaan, santai saja. Ambil napas dalam-dalam, dan ketahuilah bahwa Anda tidak sendirian. Ada ratusan, jika tidak ribuan orang, yang masih meluangkan waktu untuk mencari pekerjaan impian mereka, sama seperti Anda.

Kisah Anda bukanlah tanpa harapan. Ini hanya awal dari cerita Anda untuk memberitahu orang tentang bagaimana menemukan karier hebat yang Anda jalani. Namun, sebelum kita mencapai masa depan yang indah itu, berikut adalah 4 hal yang dapat Anda lakukan untuk memaksimalkan waktu Anda di sela-sela pencarian kerja.

 

1. Cari magang

 

Mungkin Anda terus ditolak dari pekerjaan karena mereka menginginkan seseorang yang sudah memiliki pengalaman bekerja sebelumnya. Mungkin Anda ingin terjun ke suatu industri namun tidak memiliki pengalaman yang relevan, dan tidak ada yang mau mengambil risiko pada Anda. Apapun alasannya, jangan khawatir. Anda akan baik-baik saja. Tetapi untuk saat ini, pilihan terbaik adalah magang, walau itu tanpa upah.

Lewat magang, Anda memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk industri yang menjadi fokus Anda di masa depan. Alasannya, perusahaan saat ini tidak mau mempekerjakan lulusan baru yang belum pernah melakukan pekerjaan di luar kampus. Apalagi, ada stereotip yang melekat pada kalangan milenial sebagai “kutu loncat”. Pasalnya, tidak ada yang perusahaan manapun yang telah menginvestasikan waktu, uang, dan sumber daya untuk mempekerjakan seseorang yang mudah pindah tempat kerja dalam waktu singkat.

Untuk membuktikan bahwa Anda bukan lah termasuk “kutu loncat” itu, Anda bisa membuktikannya dengan bekerja secara gratis di tempat magang. Bonus lainnya, bukan tidak mungkin Anda akan diangkat menjadi karyawan tetap di kantor tempat Anda magang.

 

2. Networking

 

Banyak orang salah menilai networking atau berjejaring sebatas kegiatan menghadiri acara, memperkenalkan diri, dan mencoba menjual sesuatu kepada orang lain (dalam hal ini, diri Anda sendiri). Padahal, networking jauh lebih dari itu. Ini merupakan keterampilan yang dipelajari dimana Anda harus mendengarkan, bertanya, dan memberikan masukan. Bukan sekadar bertanya, bertanya, dan bertanya.

 

Baca Juga: Ingin Dapat Tambahan Pendapatan Tanpa Ganti Pekerjaan? Ini Strateginya!

 

Agak segan memang jika harus bepergian hanya untuk mencari rekan yang akan membantu karir Anda. Akan tetapi, ada tips yang bisa diikuti. Pertama, mulailah dengan merajut hubungan kembali dengan profesor, mentor, kakak kelas, teman, dan orang penting lainnya dalam kehidupan perkuliahan Anda dulu. 

Kedua, untuk menghubungi mereka, Anda bisa memulai pembicaraan secara lebih terarah. Buka profil media sosial mereka dan cari sesuatu untuk ditanyakan sebagai pengenalan ulang. Jangan hanya bertanya "Apa kabar?" Karena jawabannya pasti akan "Baik, Anda?".

Sebaliknya, tanyakan tentang sesuatu yang lebih spesifik. Misalnya tentang apa yang mereka lakukan saat ini, bagaimana sesuatu yang mereka katakan sebelumnya telah mempengaruhi hidup Anda sekarang. Selain itu, ceritakan sedikit tentang apa yang Anda tengah kejar dan dengarlah responnya.

Jangan langsung bergegas untuk bertanya tentang peluang pekerjaan yang bisa mereka tawarkan. Jangan pula meminta rekomendasi dari mereka yang tidak tahu seluk-beluk pekerjaan Anda secara baik, apalagi mereka sama sekali tidak ingat siapa diri Anda. Pastikan mereka memiliki first impression yang baik tentang diri Anda sebelum Anda meminta apa pun. Lalu, jika mereka memiliki kesan buruk terhadap Anda di masa lalu, cobalah untuk memutar perspektif itu secara perlahan.

Seorang profesor perguruan tinggi mengaku bahwa mereka tidak akan merekomendasikan mahasiswa/i-nya yang bisa mempermalukan reputasinya di mata kolega mereka. Biasanya, dosen akan memberikan kesempatan kepada mahasiswanya yang dianggap berprestasi dan relatif kenal lebih dekat. Jadi, tak ada salahnya untuk tetap akrab kepada dosen di masa-masa akhir perkuliahan Anda.

 

3. Ambil kursus online

 

Ada seseorang yang baru saja lulus dari perguruan tinggi fakultas ekonomi dan selama menunggu masa menganggur, ia rajin ikut kursus online secara gratis untuk memperoleh sertifikasi di bidang digital marketing. Singkat cerita, ia justru memperoleh pekerjaan karena salah satunya memiliki sertifikasi teruji dari lembaga terpercaya yang ia dapat secara daring.

 

Baca Juga: Cara Mengatur Waktu Yang Sederhana dan Efektif Bagi Yang Memiliki Bisnis Sampingan

 

Artinya, jangan buang waktu dengan bermuram durja atau menonton serial Netflix sambil berharap recruiter menghubungi Anda. Cari tahu apa yang ingin Anda pelajari dan lakukan saja. Justru saat-saat ini lah (menunggu pekerjaan) merupakan waktu yang tepat untuk mencoba dan mengambil segala keterampilan yang dibutuhkan dalam upaya melengkapi CV Anda. Saran terbaik, ambil yang sesuai dengan minat Anda agar dinilai lebih relevan.

Ingat kisah Steve Jobs tentang bagaimana ia belajar tipografi dan hal itu menjadi bagian penting dari bisnis Apple saat ini. Tidak ada yang tahu bagaimana keterampilan itu akan memberikan perspektif besar bagi karir Anda ke depan. Seorang engineer saat belajar tentang pemasaran digital, ia memperoleh tawaran menarik sebagai konsultan marketing. Hal-hal semacam itu bisa terjadi di dunia kerja.

Manfaat lain dari mengikuti kelas online adalah Anda dapat show off selama wawancara kerja, khususnya ketika menjawab pertanyaan “Tolong ceritakan tentang diri Anda?”. 

Sebagai tips, jangan mengikuti seminar atau sertifikasi yang tidak diakui oleh sebagian besar pemberi kerja. Apalagi jika mereka meminta Anda membayar banyak uang untuk mengikuti program mereka.

Membelanjakan uang untuk mempelajari sesuatu harus disertai dengan penelitian tentang seberapa kompetitif lulusan dari seminar dan sertifikasi itu. Cara termudah adalah dengan memeriksa bagaimana alumni mereka sekarang. Jika mereka rata-rata sukses, bolehlah untuk dicoba.

 

4. Buat projek seru

 

Banyak orang yang mencoba untuk membuat proyek kecil-kecilan sembari menunggu proses panggilan kerja. Projek yang dimaksud bisa bermacam-macam. Sebagian orang senang dengan berjualan barang secara online. Sebagian lainnya menjual apa yang mereka bisa; seperti minuman atau makanan. Sebagian lainnya lagi menjadi tenaga penjual paruh waktu untuk produk seperti asuransi dan Multi-Level-Marketing.

 

Baca Juga: Apa Yang Perlu Anda Lakukan Setelah Kehilangan Pekerjaan?

 

Yang menarik dengan proyek-proyek ini adalah Anda belajar menjadi seorang entrepreneur, bagaimana membangun usaha, meyakinkan calon pembeli, dan memasarkan projek Anda itu. Para fresh graduate bisa memulainya dengan mencoba membuat garage sale. Mereka mengumpulkan barang-barang preloved milik teman-teman mereka, dan menjajakannya di tempat keramaian, seperti saat car-free-day misalnya. 

Apa pun yang Anda lakukan, pastikan itu adalah sesuatu yang dapat Anda bicarakan selama wawancara kerja. Ini adalah bagian percakapan yang menarik saat sang recruiter meminta Anda untuk menceritakan pengalaman hidup setahun terakhir. 

Ingat, menghasilkan uang sendiri dapat menghentikan Anda dari rasa putus asa saat menunggu memperoleh gaji tetap. Hal ini juga membuat Anda memiliki modal ketika tawaran kerja masuk. Sebab, banyak hal yang mesti dibiayai pada bulan pertama. Misalnya, pakaian kerja, tata rias bagi perempuan, dan tentu saja uang makan serta transportasi selama bekerja.

Yang menarik dari memiliki penghasilan sebelum bekerja adalah Anda bisa mulai untuk memiliki asuransi dengan biaya premi kecil. Seperti Cigna Proteksi Sehat dimana hanya dengan biaya premi mulai dari Rp 4.000, Anda memiliki kepesertaan yang dapat digunakan di seluruh jaringan Rumah Sakit rekanan. 

Selain itu, sebagai mantan mahasiswa, kartu kepesertaan Cigna ini dapat Anda gunakan untuk menikmati diskon di berbagai merchant ritel yang sudah tergabung menjadi rekanan Cigna. Sehingga menghemat pengeluaran Anda ketika berbelanja. Menarik bukan?